Minggu, 06 Agustus 2017

K-pop, Drama Korea dan Nasionalisme


Banyak orang yang beranggapan kalo orang lain yang suka musik pop Korea (K-pop) dan hobi nonton drama Korea itu berarti ngga cinta sama negeri sendiri. Ngga nasionalis, katanya. Zaman sekarang, banyak para pejuang jempol yang mudah sekali judging dan melabeli orang lain hanya karena mereka ngga sepaham, atau bahasa kerennya : ngga se-isme.

Memangnya kadar nasionalisme seseorang itu diukur pake patokan apa? Dari apa yang ditontonnya? Dari hobinya? Dari kesukaannya? Jangan-jangan kita pakai standar ganda buat mengukur rasa nasionalisme orang lain. Mereka yang suka hal-hal berbau Korea, langsung di cap ngga nasionalis. Tapi kita sendiri masih suka pakai barang-barang impor bermerk ketimbang barang-barang buatan lokal. Nah loh. Ada yang bilang dengan lantang "saya benci segala hal yang berbau koreanisme, tapi kalo dikasih handphone samsul ngga apa-apa." Minta diketawain banget ngga sih? Trust issue level national.

Ada lagi yang lebih lucu, gue pernah dikritik habis-habisan sama seorang temen lama hanya karena gue sering share foto-foto dan berita artis Korea di media sosial gue. Sang teman menilai gue berlebihan, padahal gue nonton drama dan beli album K-pop ngga minta sama dia loh uangnya. Saat itu gue abaikan aja sih komentar-komentar miring dia, toh gue ngga merasa merugikan siapa-siapa. Singkat cerita, dia nikah, hamil lalu lahiran. Biasa kan kalo mamah-mamah muda baru lahiran suka sharing kebahagiaannya di linimasa media sosialnya. Dan jeng..jeng.. tau ngga sih, nama anaknya JEPANG BANGET. Minta diketawain part 2. Tapi gue ngga merendahkan diri sampe selevel dia dengan nyinyir soal nama anaknya loh. Pada dasarnya gue menjunjung tinggi kebebasan seseorang sih, selama itu ngga merugikan gue. Cuma kan jadi.... cukup tau aja yekan? Double standard. 

Padahal orang-orang yang hobinya judjing itu ngga tau aja kalo kami ini biarpun dengerinnya musik Kpop, nontonnya drama korea, tetep suka pakai batik dan baju adat loh. Kami tetep suka masakan dan kuliner nusantara, anak-anak kami pun ngga kami namai pake nama Korea. Gue pribadi malah lebih suka beli tas produksi lokal dengan corak-corak etnik yang khas. Selain harganya terjangkau, kualitasnya pun terjamin. 

Untuk kami yang tinggal di Bandung, setiap hari Rabu kami rajin juga pake kebaya (untuk perempuan) dan pangsi (untuk laki-laki). Dari mulai anak sekolah sampai pegawai kantoran, semua kompak pakai baju daerah sesuai tema "Rebo Nyunda" yang dicanangkan oleh Pemkot. Anak-anak gue juga setiap Rabu pergi ke sekolah pakai kebaya dengan bawahan batik dan baju pangsi. Siapa bilang kami ngga nasionalis?

Kami ngga malu atau gengsi kok pakai baju adat, apalagi sekarang udah banyak banget modifikasi baju-baju adat, terutama kebaya, sehingga jadi lebih chic dan modern. Kebaya merupakan pakaian nasional negara kita kan, mengikuti perkembangan zaman desain kebaya juga mengalami banyak perubahan gaya dan model yang ngikutin tren. Kalo menurut gue seiring dengan berkembangnya dunia fashion, ngga lantas membuat baju-baju tradisional kehilangan daya tarik kok. Dengan desain yang menarik, semua orang ngga ragu-ragu pake baju tradisional untuk aktivitas sehari-hari. Apalagi kita kaum hawa yang selalu ikutin tren tapi tetep memupuk jiwa nasionalisme, bisa kok menemukan banyak koleksi kebaya modern di Zalora Indonesia yang sesuai dengan gaya kita. 

Memang rasa nasionalisme dan patriotisme seseorang ngga mutlak ditentukan dari apa yang disukainya atau apa yang dipakainya, tapi begitu pun sebaliknya. Jangan hanya karena kesukaan kita berbeda lantas gampang melabeli orang lain "ngga nasionalis". Siapa yang tau kan kalo orang itu hatinya lebih merah-putih dari kita sendiri? :)
Merdeka!

2 komentar:

  1. Hidup K-pop lovers! wkwkwk

    jujur, aku juga suka nonton drama korea, tapi untuk skin care aku pake brand lokal yaitu wardah. nasionalis kan? hhaaa
    Bdw aku suka postingannya mbk. Salam kenal :)

    BalasHapus
  2. kalau makan uang rakyat, melakukan pungli atau jual kekayaan alam indonesia pada asing kira kira punya rasa nasionalisme nggak ya mbak hehe

    BalasHapus