Jumat, 14 November 2014

Hujan dan Resonansi Kenangan

 
Source : here


Buat gue, mengawali hari diiringi hujan itu merupakan berkah tersendiri dari Tuhan. Bangun tidur, melihat ke luar jendela dan mendapati hujan
turun itu ada dua hal yang mungkin gue lakukan. Pertama, mengingat jadwal kuliah. Kedua, menarik selimut dan kembali melanjutkan perjalanan menuju alam mimpi ketika gue inget hari itu ngga ada mata kuliah pagi. Lain halnya kalo pagi itu ada jadwal kuliah. Pasti gue dengan semangat bak atlet habis minum dopping, pergi ke kampus tanpa manyun dan berkeluh-kesah. 

Seperti pagi ini. 


Mandi, ganti baju, beresin buku-buku dan jurnal kuliah secepat gue bisa. Gradak-gruduk ke meja makan menyambar sarapan, 5 suapan nasi goreng buatan nyokap, lalu bergegas berangkat dengan mulut penuh dan masih mengunyah. Ransel dipunggung, termos kopi ditangan kanan, dan payung ditangan kiri.

“Aku pergi, Bu!” teriak gue sambil buru-buru membuka pintu, “Kisha! Makannya beresin dulu! Jangan makan sambil jalan!!” sahut nyokap gue tergopoh-gopoh nyusul dibelakang sambil bawa-bawa piring nasi goreng.

“Yaa..I love you too...!” cengir gue masih dengan mulut masih penuh nasi goreng, lalu berlalu dengan suara gedubrak  pagar dibelakang gue. Setengah berlari gue menembus gerimis pagi  itu. Maunya sih sambil menyesap kopi, tapi setelah dipikir-pikir kayanya gue ngga sejago itu. Lari sambil ngopi. Ide buruk.
Pagi itu gue ngga kesiangan kok, malah masih ada waktu satu setengah jam dari jadwal mata kuliah pertama. Gue hanya ingin menikmati hujan sepanjang perjalanan gue ke kampus. 

Dan terutama cowok itu. 

Cowok berambut ikal dan berantakan yang selalu berdiri dengan pandangan melamun sambil memerhatikan tiap-tiap tetes hujan di halte itu. 

Ya, gue ingin menikmati hujan di pagi hari dengan berdiri disebelahnya di halte bus, memperhatikan punggungnya di dalam bus yang membawa kami menuju kampus, dan berjalan beriringan melintasi jalanan yang tergenang air. Memenuhi memori dengan suara kecipak air yang terinjak sepatu kami.

Tap. Gue menjejakan kaki di halte, lalu mengatur nafas yang memburu bak pria separuh baya melihat paha gadis belia. Gue mengedarkan pandangan mencari sosok kurus dengan ransel birunya.  Ah, dia ada. Kai. Masih dengan rambutnya yang seperti ngga kenal sisir, dia berdiri diujung halte dengan tangan terjulur memainkan air hujan.

Jantung gue kalo dipasangin speaker kayanya cocok buat beat nge-dance, “duk, stak, stuk, stak ,stuk, stak, stuk...”  begitu ritmenya pas gue liat cowok itu menoleh menyadari kehadiran gue dan memberi senyum simpulnya yang khas. Oh Tuhan, terima kasih karena menciptakan sesuatu seindah ini, batin gue.

“Hai Sha.. masuk pagi juga? Tumben ngga kesiangan..” sapanya sambil tetap berdiri ditempatnya tadi. Dengan langkah ringan gue samperin dia sambil menahan diri untuk ngga serta-merta ngasih dia cengiran lebar. Bukan karena gue mau sok cool, tapi lebih karena khawatir masih ada cabe sisa nasi goreng nyelip di gigi gue. 

“Hai Kai.. Iya masuk pagi. Kalo pagi kan aku ngga pernah kesiangan, hehe. Telat itu kalo kuliah siang. Males pergi, panas.” Gue berdiri disebelahnya, menghirup aroma colonge-nya yang khas. Wangi yang ngga bakal bisa gue lupain bahkan sampai bertahun-tahun kedepan.

“Haha...aku lupa, kamu kan cewek vampir. Ga suka matahari. Matahari membunuhmu...” sahutnya sambil tersenyum geli. Datak jantung gue makin men-disko nih. “ Hehe.. tuh tau..” cengir gue. Lalu sambil mengobrol kesana kemari dan sesekali menyesap kopi,  gue menyetel auto focus pandangan gue hanya pada sepasang mata coklatnya dan senyum berlesung pipit yang menggemaskan. Sambil berharap gue ngga meleleh dan meninggalkan jejak becek di lantai halte.

Dan sepertinya Tuhan memberi gue bonus selain hujan-Nya. Beruntungnya gue, ketika bus datang ternyata masih menyisakan dua tempat duduk kosong dibarisan belakang. Mungkin orang-orang ngga se-bersemangat gue dalam menghadang hari berhujan, makanya bus yang biasa penuh sesak, berbau keringat dan asap rokok itu kali ini sedikit lengang.

Kai memilih duduk dekat jendela. Gue mendudukan pantat disebelahnya dan sedikit bergidik dengan kehangatan tubuhnya yang menempel dilengan gue. Dalam hati gue diam-diam membisikkan doa “Makasih Tuhan untuk bangku kosongnya. Semoga setiap pagi Engkau turunkan hujan dan menyisakan bangku ini hanya untukku dan makhluk ciptaan-Mu yang bernama Kai ini,  Amin”.

Ya, hujan itu romansa.


***



4 komentar:

  1. Tulisanya Bagus.
    http://ngawurkarenabenar.wordpress.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Newbie baru belajar corat coret ^^
      Makasih udah berkunjung...

      Hapus
    2. Hayang seuri pas bagian"..... Pria separuh baya melihat paha gadis belia...." kok asa geli2 gmn gitu weh perumpamaan lain tie xixixixix
      *mommy ayu

      Hapus
    3. Wkkkk... itu kan maksudnya nafas yg ngos2an gituu..kalo di komik2 mah keluar asep tea :D Perumpamaan yg terlintas dikepala cuma itu, hihihihi..

      Hapus